Senin, 16 Maret 2009

Hubungan Manusia dengan Pendidikan

MANUSIA DAN PENDIDIKAN

Pada hakekatnya manusia adalah sebagai mahluk pribadi, sosial dan mahluk Tuhan. Proses hidup manusia adalah proses perkembangan berada dan berlangsung di dalam masyarakat, oleh karena itu manusia adalah mahluk yang memiliki masa belajar yang panjang.

Anak adalah mahluk unik yaitu berbeda satu dengan yang lain dan berkembang secara fisik, sosial mental maupun emosional, perkembanganya bersifat holistik dan memiliki kesiapan belajar hasil dari pengalaman dan kematangan.

Kebutuhan anak akan pendidikan muncul dari kondisi eksistensi manusia sebagai mahluk pribadi, sosial dan mahluk Tuhan. Kesenjangan yang ada pada anak mereka akan menyesuaikan, mengembangkan dan merealisasikan diri karena kebutuhan.

Pendidikan adalah proses membantu anak agar berkembang secara optimal sesuai dengan potensi pada dirinya.

Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah tiga lingkungan belajar, ketiga lingkungan tersebut sebagai tritunggal ligkungan pendidikan yang oleh Ki Hajar Dewantoro disebut tripusat pendidikan.


1. PENGERTIAN LANDASAN PENDIDIKAN

Berdasarkan sifat wujutnya terdapat dua jenis landasan yaitu landasan bersifat material dan landasan yang bersifat konseptual. Landasan bersifat konseptual pada dasarnya identik dengan asumsi, yaitu gagasan, kepercayaan, prisip, pedapat atau pernyataan yang dijadikan titik tolak dalam rangka berpikir dan bertindak.

Menurut Troy Wilson Organ ” asumsi dapat dibedakan dalam tiga macam yaitu : aksioma, postulat dan premis tersembunyi ” (Redja Mudyahardjo, 1995).

Aksioma adalah asumsi yang diterima kebenaranya tanpa perlu pembuktiannya atau suatu pernyataan yang kebenaranya diterima secara universal., contoh:” dalam hidupnya manusia tumbuh dan berkembang”.

Postulat yaitu asumsi yang diterima kelompok orang tertentu atas dasar persetujuan. Contoh :”Perkembangan individu ditentukan oleh faktor hereditas dan lingkungan (pengalaman)”.

Premis tersembunyi yaitu asumsi yang tidak dinyatakan secara tersurat yang diharapkan dipahami atau diterima sacara umum. Contoh :” Amin perlu dididik ( dinyatakan ). Dalam pernyataan ini terdapat premis tersembunyi yang tidak dinyatakan, yaitu semua manusia perlu dididik (premis mayor), Amin adalah manusia (premis minor).

Pada dasarnya hakekat pendidikan adalah humanisasi yaitu upaya mamanusiakan manusia, maka para pendidik perlu memahami hakekat manusia sebagai salah satu landasan.

Lanadasan pendidikan adalah seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendidikan. Dalam pendidikan terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan / momen berpikir dan momen bertindak.


2. JENIS-JENIS LANDASAN PENDIDIKAN


Pendidikan bersumber dari agama, filsafat, ilmu dan hukum atau yuridis. Berdasarkan sumber jenisnya landasan pendidkan dapat diidentifikasi dan dikelompokan menjadi :
1. landasan religius pendidikn 2. landasan filsafat pendidikan 3. landasan ilmiah pendidikan 4. landasan hukum/yuridis pendidikan.

Landasan Religius Pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dai agama dijadikan titik tolak pendidikan.

Landasan Filosofis Pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang menjadi titik tolak pendidikan.

Landasan Ilmiah Pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu yang menjadi titik tolak pendidikan. Seperti : psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, sejarah dsb. Jenis landasan ilmiahnya pendidikan antara lain seperti : landasan psikologi pendidikan, landasan sosiologi pendidikan, landasan biologis pendidikan, landasan antropologi pendidikan, landasan historis pendidikan, landasan ekonomi pendidikan, landasan politik pendidikan dan landasan fisiologis pendidikan.

Landasan psikologi Pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang menjadi titik tolak pendidikan. Contoh:”
Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap dan setiap tahap perkembanganya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan..”

Landasan sosiologi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.. Contoh : Dalam kehidupan masyarakat.

Landasan antropologi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadika titik tolak pendidikan. Contoh: Perbedaan budaya diberbagai daerah.

Landasan ekonomi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah ekonomi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikn.

Landasan biologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah biologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh : Dibandingkan dengan hewan manusia memiliki otak yang lebih besar sehingga mampu berpikir. Implikasinya adalah manusia memungkinkan untuk dididik

Landasan politik pendidikan adalah ------------- Contoh : Pemerintahan otokrasi mengimplikasikan manajemen pendidikan yang sentralistik.

Landasan historis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang menjadi titik tolak perkembamngan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh : Tut wuri handayani

Landasan fisiologis pendidikan adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari kaidah-kaidah fisiologi tentang manusia yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh Kematanga organ-organ tubuh seperti fungsi otak, susunan saraf, alat dria, otot-otot dsb mendahului perkembangan kemampuan berpikir sebagai fungsi jiwa. Implikasinya adalah isi pendidikan disesuaikan dengan masa peka yaitu masa kematangan organ-organ tubuh untuk dapat menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

:andasan hukum pendidikan asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.

Landasan deskriptif pendidikan adalah asumsi-asumsi tentang kehidupan manusia sebagai sasaran pendidikan apa adanya (dasein) yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendididkan. Landasan deskriptif pendidikan pada umumnya dari hasil riset ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu, sebab itu landasan deskriptif pendidikan disebut juga landasan ilmiah pendidikan atau landasan faktual pendidikan.

Landasan deskriptif pendidikan antara lain meliputi : landasan psikologi pendidikan, landasan biologis pendidikan, landasan sosiologi pendidikan, landasan antropologi pendidikan dsb,

Adapun landasan preskrptif pendidikan adalah asumsi –asumsi tentang kehidupan manusia yang ideal/diharapkan /dicita-citakan (Das Sollen) yang disarankan menjadi titik tolak studi pendidikan atau praktek pendidikan. Artinya landasan preskriptif pendidikan antara lain : landasan filosofis pendidikan, landasan religius pendidikan dan landasan yuridis pendidikan.

3. FUNGSI LANDASAN PENDIDIKAN

Dalam praktek pendidikan, para guru dituntut agar melaksanakan peranan sesuai semboyan ” tut wuri handayani ”. Untuk itu para guru idealnya memahami dan meyakini asumsi-asumsi dari semboyan tersebut. Guru berperan sebagai penentu perkembangan pribadi siswa, pembentuk pribadi siswa, pembentuk untuk menjadi siapa siswanya dikemudian hari.

Guru diharapkan memahami dan meyakini asumsi-asumsi dari semboyan tut wuri handayani ( yaitu : kodrat alam dan kebebasan siswa ), maka ia akan sadar dan mantap melaksanakan perananya, untuk membimbing para siswa dalam belajar agar dapat mencapai prestasi yang optimal. Sesuai dengan bakat, minat, kecepatan dan kapasitas belajarnya masing-masing.


Guru bertugas mengatur atau mengarahkan siswa ketika siswa mengalami kesalahan dalam belajarnya. Berdasarkan uraian di atas kiranya asumsi atau landasan pendidikan akan berfungsi sebagai titik tolak atau tumpuan bagi para guru dalam melaksanakan praktek pendidikan.


PENGERTIAN PENDIDIKAN

1. Pengertian pendidikan berdasarkan lingkungannya
a. Pendidikan dalam arti luas

Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup, artinya pendidikan adalah segala pengalaman ( belajar ) diberbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positip bagi perkembangan individu.

Pendidikan tidak terbatas pada penyekolahan ( schooling ) saja, bahkan pendidikan berlangsung dari lahir hingga meninggal dunia. Pendidikan berlangsung di keluarga, sekolah dan dalam masyarakat.

b. Pendidikan dalam arti sempit.

Dalam arti sempit pendidikan dalam prakteknya identik dengan penyekolahan, yaitu pengajaran formal di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol.
Dalam arti sempit pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran ( instruction ) yang terprogram dan formal, lamanya pendidikan bervariasi, tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar.

2. Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah dan Pendekatan Sistem
a. Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah

Pendidikan adalah pengaruh yang dilakukan oleh generasi orang dewasa kepada mereka yang belum siap untuk melakukan kehidupan sosial. (Jeane H. Ballantine, 1985)
Berdasarkan pendekatan antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi atau pembudayaan, yaitu suatu proses dengan jalan mana seseorang menyesuaikan diri kepada suatu kultur dan mengasimilasikan nilai-nilainya.

Berdasarkan pendekatan ekonomi, pendidikan dipandang sebagai human invesment
atau penanaman modal pada diri manusia. Sedangkan dipandang dari tinjauan politik, pendidikan sebagai proses civilisasi yaitu suatu upaya menyiapkan warga negara yang sesuai dengan aspirasi bangsa dan negaranya. (Odang Muchtar,l976)

Berdasarkan tinjauan pedagogik M.J Langeveld “Pendidikan ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohani kepada orang yang belum dewasa.” (Simanjuntak, 1980). Menurut Langeveld mndidik berarti melakukan tindakandengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Adapun tujuannya pendidikan adalah kedewasaan. Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah pendewasaan, yaitu suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh orang dewasa untuk membantu anak atau orang yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaa.

Untuk mencapai tujuan pendidikan menggunakan alat pendidikan, yang antara lain unsur-unsur pendidikan anatara lain :
1) Tujuan pendidikan
2) Pendidik
3) Anak didik
4) Isi pendidikan (kurikulum)
5) Alat pendidikan
6) Lingkungan pendidikan.
Menurut M.J. Langeveld pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan. Adapun syarat kmengenal kewibawaan adalah kemampuan anak dalam memahami bahasa.

Dengan demikian batas bawah pendidikan atau pendidikan dapat dimulai yakni ketika anak mengenal kewibawaan. Sedangkan batas atas pendidikan atau saat akhir pendidikan adalah ketika tujuan pendidikan telah tercapai yaitu kedewasaan. Bila anak belum mengenal kewibawaan, pendidikan belum dapat dilaksanakan. Dalam keadaan seperti ni yang dapat dilaksanakan adalah pre pendidikan atau pembiasaan. Apabila telah tercapai kedewasaan yang mungkin terjadi adalah bildung atau pengembagan diri. Dalam praktek pendidikan pra pendidikan tanggung jawabnya adalah pendidik, sedangkan dalam bildung tanggung jawabnya terletak apad orang dewasa yang melaksanakan bildung tersebut.



PENDIDIKAN DALAM ISLAM



Pendidikan dalam islam Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun kultural, secara makro persoalan yang dihadapi. pendidikan Islam adalah bagaimana pendidikan Islam mampu menghadirkan disain atau konstruksi wacana pendidikan Islam yang relevan dengan perubahan masyarakat. Kemudian disain wacana pendidikan Islam tersebut dapat dan mampu ditranspormasikan atau diproses secara sistematis dalam masyarakat. Persoalan pertama ini lebih bersifat filosofis, yang kedua lebih bersifat metodologis. Pendidikan Islam perlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada dataran filosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar